|
KKI menyelenggarakan perayaan tujubelasan bersama segenap masyarakat Indoneisa Philadelphia dengan Bazar, Lomba-lomba, dan Doa Bersama. Bazar silakan hubungi Saudari Tieneke, dan perlombaan-perlombaan hubungi Saudari Fenny
KKI menyelenggarakan perayaan tujubelasan bersama segenap masyarakat Indoneisa Philadelphia dengan Bazar, Lomba-lomba, dan Doa Bersama. Bazar silakan hubungi Saudari Tieneke, dan perlombaan-perlombaan hubungi Saudari Fenny
Selamat kepada Agustinus Danu Rahardjo (Danu), Michelle Tienneke L. Suardi (Tienneke) dan Dominikus Satrio Yudo (Satrio) atas terpilihnya menjadi Ketua KKI Periode 2010-2012.
Perkenalkan nama saya, DOMINIKUS SIONG, sehari-hari dipanggil Siong, lahir di Nanga Lidau, 14 Mei 1992. Kampung tersebut masih berada di wilayah Paroki St. Yosef, Nanga Mau, meski dulunya berada di wilayah Paroki Nanga Pinoh. Saya anak yang ke 6 dari 9 bersaudara. 2 orang kakak saya sudah meninggal dunia, jadi kami sekarang yang ada 7 bersaudara. Saya hidup dalam keluarga peladang dan penoreh karet, meski hanya memiliki beberapa puluh pohon saja.
Ketika Tamat dari Sekolah Dasar, saya tidak bisa langsung melanjutkan, tetapi harus merantau ke Kalimantan Tengah untuk bekerja dengan harapan bisa melanjutkan kembali sekolah. Selama diperantauan, 2 tahun saya bekerja menjual kue dan es keliling. Dari hasil kerja tersebut sebulan bisa mendapat uang Rp 100.000,-. Dari uang tersebut saya paksakan diri untuk menabung. Suka duka dalam perantauan itu membawa semangat untuk terus melanjutkan sekolah. Maka setelah tahun ke 2 saya kembali ke kampong halaman dan hendak melanjutkan Sekolah Menengah Pertama.
Saya pun mulai mempersiapkan diri untuk masuk SMPN 1 Kayan Hilir di Nanga Mau. Pada tahun pertama saya juga membiayai sekolah dengan menorah karet milik orang lain. Dengan menorah ini saya mendapatkan Rp 35.000,- sehari kalau tidak hujan. Dan sebagian uang tersebut masih juga bisa saya tabungkan. Tahun ke 2 dan hingga lulus, saya bekerja menjadi ‘office boy’ di salah satu CU di Nanga Mau. Ternyata uang yang sudah sekian lama dikumpulkan juga tidak bisa cukup untuk masuk sekolah SMA, oleh karena beaya hidup yang semakin tinggi dan terlebih lagi Ayah pernah sakit dan perlu perawatan, ditambah lagi adik yang masih SD, membuat saa putus asa. Dalam keputusasaan tersebut masih ada keinginan untuk menjadi seorang Imam melihat Pastor Paroki yang turne kelelahan dan tenaga untuk menggembalakan umat sangat minim. Keinginan tersebut saya ceritakan dengan Rm. Gaby, Pr. Yang menjadi Romo Paroki kami, yang saat itu baru saja pulang dari turne. Saya dijanjikan untuk dibantu beaya sekolah dan seminari dengan syarat lulus SMP dengan nilai baik dan orang tua harus tetap membantu semampunya!
Akhirnya saya pun lulus dengan baik dan mengikuti tes di Seminari Menengah St. Yohanes Maria Vianney, Sintang. Dan puji Tuhan diterima, Ayah hanya mempunyai uang Rp 500.000, dan tabungan saya tersisa Rp. 400.000,-, kekurangannya ditanggung Romo Gaby, Pr. Pada tahun pertama ini, Ayah tidak bisa lagi membiayai saya, karena kakak saya pun tahun ini juga perlu beaya untuk lulus dari SMA.
Demikianlah sekilas perjuangan hidup saya hingga sampai sekarang. Tak lupa saya mengucapkan limpah terima kasih kepada Anda para donator yang telah membuat saya bisa di Seminari Menengah ini. Tuhan Memberkati Karya Anda.